
Teman
saya yang juga ketua JPMI Malang –
Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia - bercerita tentang alasan mengapa dia banyak membantu saudara-saudara -- yang secara finansial mungkin kurang beruntung – untuk tinggal dan membantu usahanya. Beberapa diantara bahkan dibiayai ongkos kuliahnya.
”Alhamdulillah dengan adanya anak-anak di sini, saya banyak mendapatkan rejeki…?” katanya sambil menyebut salah seorang saudaranya yang dibiayai kuliah.
”Bagaimana bisa begitu..?” tanya saya penasaran
”… ya usaha saya bisa lancar, saya dapat banyak dapat order, saya dan keluarga alhamdulillah selalu sehat.. coba kalau itu semua dinilai dengan uang sudah berapa?” jelasnya pada saya.
Saya hanya bisa manggut-manggut mendengarnya.
”Kita ini khan ibarat pipa air, semakin besar pipa yang kita alirkan untuk orang lain, maka semakin besar juga khan airnya. Begitu juga rejeki, semakin banyak yang kita bagi untuk orang lain, khan semakin banyak juga yang kita terima…” begitu terangnya mengenai konsep sedekah yang dia pahami kepada saya.
Saya jadi teringat, cerita istri saya saat mengunjungi –
Abah (ayah) dari salah seorang teman kantornya. Abahnya seorang kiayi terkenal di
daerah Malang - saat itu sedang sakit. Meski sakit, namanya juga kiayi, ya tetap saja memberi nasihat kepada pengujungnya. Nasihatnya adalah bertema sedekah,
lha kok intinya persis dengan apa yang dikatakan oleh teman saya tadi. Analoginyapun juga sama memakai pipa air. Sekedar tahu saja, Bapak kiayi tadi mempunyai yayasan yang salah satunya bergerak di bidang pendidikan. Tapi ada istimewa dari pendidikan yang dikelola oleh yayasannya.
Semua biaya pendidikan di sana GRATIS tentu ini luar biasa, disaat sekolah negeri dan swasta lainnya berlomba-lomba menaikkan tarif SPP-nya disitu malah gratis. Meski gratis gedung sekolah dan peralatan belajarnya serta kesejahteraan gurunya lumayan baik.
Selain bicara masalah sedekah, sang Kiayi juga bernasihat tentang rejeki yang harus senantiasa kita syukuri,
”Coba perhatikan berapa harga satu tabung oksigen ini…” katanya sambil menunjuk tabung oksigen yang berada disamping tempat tidurnya.
”Ratusan ribu khan? Nah, sekarang sampean tiap hari gratis-tis bisa bernapas tanpa tabung oksigen ini…” lanjutnya.
”Berapa ratus juta kalau sampean hitung sejak sampean lahir…” Pembaca sekalian. Begitulah konsep rejeki yang juga saya pahami. Rejeki bagi saya tidak semata-mata berupa materi.
Keluarga yang baik, teman, kesehatan dan kesempatan untuk bekerja dan bahkan menulis secara rutin di blog ini juga adalah rejeki yang jika dinilai secara materi itu semua berharga jutaan rupiah juga!
Percayalah dengan
menulis juga mendatangkan rejeki! Asalkan konsep rejeki anda sama dengan saya, dan apa yang anda tulis itu banyak manfaatnya bagi orang lain, insyaAllah pasti anda akan dapatkan!
Saya hanya bisa mencontohkan yang saya alami saja: dengan menulis saya bisa dapat banyak kenalan, mulai dari
pimpinan redaksi koran yang cukup
dikenal di kota saya ,
penulis Ayat-ayat Cinta dosen
kocak yang produktif nulis sampai dengan tawaran
menjadi pelatih penulisan di beberapa tempat dan kota. Tentu masih banyak yang lain kalau mau dirinci satu persatu.
Nah, itu jugalah yang menjadikan salah satu
AMBaK dalam menulis.
Anda tertarik mendapatkan banyak rejeki?
Menulislah!