• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Kolom Writing Spirit
Sukses Tersenyum : Writing Spirit
Rejeki PDF Print E-mail

…ketika rejeki hanya diartikan materi, betapa sempitnya kehidupan ini
Teman saya yang juga ketua JPMI Malang – Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia - bercerita tentang alasan mengapa dia banyak membantu saudara-saudara -- yang secara finansial mungkin kurang beruntung – untuk tinggal dan membantu usahanya. Beberapa diantara bahkan dibiayai ongkos kuliahnya.

”Alhamdulillah dengan adanya anak-anak di sini, saya banyak mendapatkan rejeki…?” katanya sambil menyebut salah seorang saudaranya yang dibiayai kuliah.

”Bagaimana bisa begitu..?” tanya saya penasaran

”… ya usaha saya bisa lancar, saya dapat banyak dapat order, saya dan keluarga alhamdulillah selalu sehat.. coba kalau itu semua dinilai dengan uang sudah berapa?” jelasnya pada saya.
Saya hanya bisa manggut-manggut mendengarnya.

”Kita ini khan ibarat pipa air, semakin besar pipa yang kita alirkan untuk orang lain, maka semakin besar juga khan airnya. Begitu juga rejeki, semakin banyak yang kita bagi untuk orang lain, khan semakin banyak juga yang kita terima…” begitu terangnya mengenai konsep sedekah yang dia pahami kepada saya.

Saya jadi teringat, cerita istri saya saat mengunjungi – Abah (ayah) dari salah seorang teman kantornya. Abahnya seorang kiayi terkenal di daerah Malang - saat itu sedang sakit. Meski sakit, namanya juga kiayi, ya tetap saja memberi nasihat kepada pengujungnya. Nasihatnya adalah bertema sedekah, lha kok intinya persis dengan apa yang dikatakan oleh teman saya tadi. Analoginyapun juga sama memakai pipa air. Sekedar tahu saja, Bapak kiayi tadi mempunyai yayasan yang salah satunya bergerak di bidang pendidikan. Tapi ada istimewa dari pendidikan yang dikelola oleh yayasannya. Semua biaya pendidikan di sana GRATIS tentu ini luar biasa, disaat sekolah negeri dan swasta lainnya berlomba-lomba menaikkan tarif SPP-nya disitu malah gratis. Meski gratis gedung sekolah dan peralatan belajarnya serta kesejahteraan gurunya lumayan baik.

Selain bicara masalah sedekah, sang Kiayi juga bernasihat tentang rejeki yang harus senantiasa kita syukuri,

”Coba perhatikan berapa harga satu tabung oksigen ini…” katanya sambil menunjuk tabung oksigen yang berada disamping tempat tidurnya.
”Ratusan ribu khan? Nah, sekarang sampean tiap hari gratis-tis bisa bernapas tanpa tabung oksigen ini…” lanjutnya. ”Berapa ratus juta kalau sampean hitung sejak sampean lahir…”

Pembaca sekalian. Begitulah konsep rejeki yang juga saya pahami. Rejeki bagi saya tidak semata-mata berupa materi. Keluarga yang baik, teman, kesehatan dan kesempatan untuk bekerja dan bahkan menulis secara rutin di blog ini juga adalah rejeki yang jika dinilai secara materi itu semua berharga jutaan rupiah juga!

Percayalah dengan menulis juga mendatangkan rejeki! Asalkan konsep rejeki anda sama dengan saya, dan apa yang anda tulis itu banyak manfaatnya bagi orang lain, insyaAllah pasti anda akan dapatkan!

Saya hanya bisa mencontohkan yang saya alami saja: dengan menulis saya bisa dapat banyak kenalan, mulai dari pimpinan redaksi koran yang cukup dikenal di kota saya , penulis Ayat-ayat Cinta dosen kocak yang produktif nulis sampai dengan tawaran menjadi pelatih penulisan di beberapa tempat dan kota. Tentu masih banyak yang lain kalau mau dirinci satu persatu.

Nah, itu jugalah yang menjadikan salah satu AMBaK dalam menulis.

Anda tertarik mendapatkan banyak rejeki?

Menulislah!
 
Life Style PDF Print E-mail

lifestyleYa benar, itu kedai kopi impor yang sekarang banyak bertebaran di kota-kota besar!
Pernahkah anda ke sana? Apa yang menarik disana?
Tempatnya? Pengunjungnya? Rasa kopinya?

Kalau bagi saya hanya satu : harganya!

Menurut saya harga secangkir kopi di starbuck luarbiasa. Secangkir bisa puluhan ribu!

Kadang saya suka berpikir, kok mau-maunya beli kopi secangkir puluhan ribu! Padahal biasanya orang-orang datang ke starbuck nggak sendirian, bareng-bareng sama temen satu kantor atau rekan bisnis. Tentu nggak hanya kopi saja yang dikonsumsi pas kongkow di sana. Dan pasti habisnya bisa ratusan ribu rupiah untuk sekedar minum kopi!

Bagi saya dan mungkin juga anda – yang bukan penggemar kopi dan kongkow – daripada uang sebegitu banyak hanya untuk minum kopi mending buat nraktir temen sekantor buat beli bakso Malang atau ayam bakar/goreng Pak Soleh ;=))

Tetapi kalau memang anda benar-benar penggemar kopi dan suka kongkow tapi anggarannya pas-pas-an, jangan khawatir. Di Malang , sekarang saya lihat banyak warung-warung kopi yang murah meriah. Mau yang tempatnya permanen plus ada fasilitas hotspot-nya, sehingga anda cukup memesan secangkir kopi seharga lima ribu dan sudah bisa nge-net dan nge-fesbuk :=)) seperti yang biasa dilakukan temen saya. Atau kalau pingin yang suasana lesehan, anda bisa pergi ke daerah sekitar kampus, di sana tiap malam trotoar-trotoar yang ada sudah beralih fungsi menjadi warung kopi kaum proletar :=))

Baiklah, saya akan bertanya lagi pada anda yang suka ngopi di starbuck maupun di lesehan trotoar. Mengapa anda mau merelakan waktu, tenaga, dan tentu uang untuk kegiatan itu? Padahal kalau dihitung-hitung hanya secara materi belaka, saya yakin anda rugi !

Oke saya akhirnya mendapat jawaban, bahwa anda dan orang-orang yang suka ngopi di luar mendapatkan kepuasan bathin tersendiri yang mungkin tidak bisa dirasakan oleh orang lain.

Karena mendapatkan kepuasan tersendiri itu maka anda mau berkorban segalanya. Bukankah begitu?

Jangan khawatir, anda masih normal kok, asal uang untuk pergi ngopi bukan utangan… hehehe.

Lain anda, lain juga orang lain. Ada yang juga mau mengorbankan waktu, uang dan tenaganya untuk hal-hal yang memuaskan jiwanya. Ada yang mengikuti olah raga ekstrim, berpetualangan ke hutan dan gua-gua dan lain sebagainya.

Begitulah, bahkan sampai kegiatan itu menjadi sebuah kebutuhan, karena merupakan bagian gaya hidupnya!

Begitu juga dengan saya. Bagi saya menulis adalah bagian dari gaya hidup yang saya jalani, saya sukai. Mungkin sebagian orang akan bertanya, mengapa saya banyak menghabiskan waktu dan bahkan uang saya untuk bisa mendapatkan koneksi internet? (Terutama dulu – sebelum tahun 2000 - ketika tarif warnet masih di atas 10 ribu perjam-nya. Saya biasa menghabiskan waktu malam minggu saya di warnet, bahkan sampai diusir oleh operatornya, karena dulu belum musim warnet buka 24 jam!)

Ya, saat itu memang belum musimnya blog dan facebook, tetapi saya suka bergabung dan berdiskusi di beberapa milis yang anggotanya ribuan orang, asyik sekali rasanya membaca ratusan pendapat orang yang berbeda dan sesekali menanggapinya secara serius dengan tulisan-tulisan yang panjang. Download pesan-pesan yang masuk di inbox email di warnet dan membacanya di rumah, sambil memilih topik mana saja yang akan ditanggapi kemudian mengetiknya. Dan akan saya poskan saat jadwal ke warnet tiba. Biasanya saya ke warnet seminggu 2 atau 3 kali!

Sekarang ketika akses internet lebih mudah dan murah saya tentu saja senang, karena sewaktu-waktu bisa mengeposkan tulisan saya di blog – wah saya sudah lama nggak aktif di milis sejak nge-blog

Ooops, kok jadi ngomongin tentang saya.

Apakah anda sudah menjadikan menulis sebagai bagian dari gaya hidup anda?

Saya jamin akan mengasyikkan!

Kenapa tidak anda coba?

gambar diambil dari : http://www.dreamwithpassion.com/wp-content/uploads/2009/02/lifestyle-diagram.jpg
 
More Articles...


Page 4 of 5
 

Hikmah Hari ini

Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan shadaqahnya setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah shadaqah, menolong seseorang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkatkan barang ke atas kendaraannya adalah shadaqah, kata-kata yang baik adalah shadaqah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah shadaqah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah shadaqah."

(HR Bukhari dan Muslim)
Banner

Statistics

Members : 13
Content : 32
Web Links : 6
Content View Hits : 11705

ShareBackLink

share backlink for free

Contoh backlink

backlink suksestersenyum