• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Kolom Writing Spirit Ayat-Ayat Cinta
Ayat-Ayat Cinta PDF Print E-mail

Kalau anda menanyak kepada saya, novel apa yang sudah berapa pernah saya baca selama beberapa tahun terakhir?

Dengan malu saya akan menjawab sejak saya lulus kuliah tahun 1996 hingga hanya ada dua novel yang berhasil saya khatamkan membacanya!
Apa nama kedua novel itu?


Yang pertama adalah The Davinci Code karangan Dan Brown dan Ayat-ayat Cinta (AAC) tulisan Habiburrahman El Shirazy.

Tetapi yang paling spektakuler adalah AAC! Karena novel tersebut saya selesaikan dalam semalam, mulai sore selepas pulang dari kantor hingga jam 2 malam. Tentu diselingi dengan makan dan solat..hehehe. Masih ada tambahan lagi, novel itu saya baca bareng-bareng dengan istri saya! Luar biasa!

Mengapa AAC begitu memikat saya dan istri untuk membacanya?

Bagi saya cerita AAC begitu hidup dan mengalir – seolah-olah saya menyaksikan sendiri para pelaku-pelakun dalam novel itu!

Saya benar-benar kagum dengan Kang Abik – begitu panggilan Habiburrahman – bagaimana dia begitu piawai menggiring pembaca dalam novelnya. Saya juga penasaran bagaimana sih proses membuat novel yang seperti itu?

Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan jawabannya ketika oleh teman-teman Forum Lingkar Pena (FLP) Malang saya diminta menemani Kang Abik yang tur ke Malang dan Pasuruan. Selama mengikutinya, baik dalam perjalanan maupun ketika talkshow saya jadi tahu bagaimana Kang Abik membuat tulisan yang begitu hidup.

Kuncinya totalitas dalam menjiwai setiap karakter yang ditulisnya atau bahasa kerennya immerse ato nyemplung!

Diceritakan oleh Kang Abik bagaiman dia juga ikut menangis ketika tokoh yang dikarangnya sedang mendapat cobaan yang berat, begitu juga dia juga menjadi geram ketika ada tokoh yang berbuat sewenang-wenang.

Ya kedengarannya aneh bahkan lucu, wong dia sendiri yang nulis dan mengarang jalan ceritanya, kok dia bisa sedih dan geram! Tetapi sekali lagi itulah tuntutan penjiwaan dari tulisan yang dia buat. Bagaimana orang lain bisa teraduk-aduk emosinya, jika dia sendiri tidak bisa merasakan!

Saya kira proses penjiwaan yang totalitas juga berlaku dalam semua profesi. Semakin total kita menjiwai apa yang kita lalkukan maka semakin baik hasil yang dicapai, insyaALlah.

Apakah juga begitu dengan menulis?

Saya kira iya!

Menurut saya ketika kita menulis dengan penuh penjiwaan, seolah-olah menulis untuk diri kita sendiri, saya juga yakin orang lain bisa merasakan sebagaimana yang kita rasakan dengan tulisan kita. Kalau kita saja berkerut-kerut dan susah memahami kalimat-kalimat yang kita tulis sendiri, apalagai orang lain? Begitu juga sebaliknya. Jika dengan sekali baca kita paham maka insyaALlah orang lain juga demikian

Anda pengin bukti?

Coba aja tulis sesuatu!

 

 
 

Hikmah Hari ini

Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan shadaqahnya setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah shadaqah, menolong seseorang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkatkan barang ke atas kendaraannya adalah shadaqah, kata-kata yang baik adalah shadaqah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah shadaqah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah shadaqah."

(HR Bukhari dan Muslim)
Banner

Statistics

Members : 12
Content : 32
Web Links : 6
Content View Hits : 10765

ShareBackLink

share backlink for free

Contoh backlink

backlink suksestersenyum